gambar

gambar
mobil impian gw

Sabtu, 28 Mei 2011

Tugas Bahasa Indonesia dongen ( ujian praktek )


Senin, 16 Mei 2011
M. Alif Ghifari Rachman/21
7B

KANCIL DAN SIPUT

Pada suatu pagi si Kancil nampak ngantuk sekali. Matanya terasa berat untuk dibuka. “Aaa....rrrrgh”, si Kancil nampak sesekali menguap. Karena hari itu cukup cerah, si Kancil merasa rugi jika menyia-nyiakannya. Ia mulai berjalan-jalan menelusuri hutan untuk mengusir rasa kantuknya. Ia pun berjalan menuju ke atas bukit. Sampai di atas sebuah bukit, si Kancil berteriak dengan sombongnya,
“Wahai penduduk hutan, akulah hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar di hutan ini. Tidak ada yang bisa menandingi kecerdasan dan kepintaranku”.
Sambil membusungkan dadanya, si Kancil kembali berjalan menuruni bukit. Ketika sampai di sungai, ia bertemu dengan seekor siput.
“Hai kancil!”, sapa si Siput.
“Kenapa kamu berteriak-teriak di atas bukit? Apakah kamu sedang merasa gembira?”, tanya si Siput.
“Tidak, aku hanya ingin memberitahukan pada semua penghuni hutan kalau aku ini hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar”, jawab si Kancil dengan sombongnya.
“Sombong sekali kamu, Kancil! Akulah hewan yang paling cerdik di hutan ini”, kata si Siput.
“Hahahaha......., mana mungkin!”, ledek Kancil.
“Untuk membuktikannya, bagaimana kalau besok pagi kita lomba lari?”, tantang si Siput.
“Baiklah! Aku terima tantanganmu”, jawab si Kancil.
Akhirnya, si Kancil dan si Siput setuju untuk mengadakan perlombaan lari besok pagi.
Setelah si Kancil pergi, si Siput segera mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong agar teman-temannya berbaris dan bersembunyi di jalur perlombaan, dan menjawab kalau si Kancil memanggil.
Akhirnya hari yang dinanti tiba. Kancil dan Siput pun sudah siap untuk lomba lari.
 “Apakah kamu sudah siap untuk lomba lari denganku?”, tanya si Kancil.
“Tentu saja sudah. Dan aku pasti menang”, jawab si Siput.
 Kemudian si Siput mempersilahkan Kancil untuk berlari dahulu. Si Siput berpesan pada si Kancil agar sepanjang jalan sering memanggilnya   untuk memastikan sudah sampai mana si Siput.
Kancil berjalan dengan santai dan merasa yakin kalau ia akan menang. Setelah beberapa langkah si Kancil mencoba untuk memanggil si Siput.
“Siput...., sudah sampai mana kamu?”, teriak si Kancil.
“Aku ada di depanmu!”, teriak si Siput.
Kancil terheran-heran, dan segera mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si Siput lagi, dan si Siput menjawab dengan kalimat  yang sama,
”Aku ada di depanmu!”
Akhirnya si Kancil berlari. Tetapi setiap ia memanggil si Siput, selalu  terdengar jawaban bahwa si Siput ada di depan dirinya. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Kancil berlari terus, sampai akhirnya ia melihat garis finish. Wajah Kancil sangat gembira sekali, karena waktu ia memanggil Siput, sudah tidak ada jawaban lagi. Kancil merasa bahwa ialah pemenang dari perlombaan lari itu.
Namun betapa terkejutnya si Kancil, karena ia melihat si Siput sudah duduk di atas batu dekat garis finish.
“Hai Kancil, kenapa kamu lama sekali? Aku sudah sampai dari tadi!”, teriak si Siput.
 Dengan menundukkan kepala, si Kancil menghampiri si Siput dan mengakui kekalahannya.
“Makanya jangan sombong! kamu memang cerdik dan pandai, tetapi kamu bukanlah yang terpandai dan tercerdik”, kata si Siput.
“Iya, maafkan aku Siput. Aku tidak akan sombong lagi”, kata si Kancil.
“Baiklah. Tapi jangan kamu ulangi lagi perbuatanmu itu”, nasehat si Siput.

T A M A T


Tokoh dan Watak
1.   Kancil
Watak : Sombong, mau mengakui kesalahan

2.   Siput
Watak : Cerdik, pemaaf


Pesan Moral
Kita sebagai manusia tidak boleh sombong dan merasa dirinya paling hebat, seperti watak si Kancil dalam cerita di atas. Tetapi kita seharusnya  selalu rendah hati kepada siapa saja, karena setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tidak perlu merasa sombong jika kita mempunyai suatu kelebihan, tetapi juga tidak perlu merasa rendah diri/minder dengan kekurangan yang ada pada diri kita.















Cerita Versi Sendiri

KANCIL DAN SIPUT

Pada suatu pagi si Kancil nampak ngantuk sekali. Matanya terasa berat untuk dibuka. “Aaa....rrrrgh”, si Kancil nampak sesekali menguap. Sinar matahari yang tidak terlalu panas dan tiupan angin sepoi-sepoi, membuat si Kancil ingin bermalas-malasan. Karena hari itu cukup cerah, si Kancil merasa rugi jika menyia-nyiakannya. Ia mulai berjalan-jalan menelusuri hutan untuk mengusir rasa kantuknya. Ia pun berjalan menuju ke atas bukit. Sampai di atas sebuah bukit, si Kancil berteriak dengan sombongnya,
“Wahai penduduk hutan, akulah hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar di hutan ini. Tidak ada yang bisa menandingi kecerdasan dan kepintaranku”.
Namun, tidak ada satupun penduduk hutan yang menanggapi teriakan si Kancil. Mereka semua sudah bosan dengan perbuatan sombong si Kancil.
Sambil membusungkan dadanya, si Kancil kembali berjalan menuruni bukit. Ketika sampai di sungai, ia bertemu dengan seekor siput.
“Hai kancil!”, sapa si Siput.
“Kenapa kamu berteriak-teriak di atas bukit? Apakah kamu sedang merasa gembira?”, tanya si Siput.
“Tidak, aku hanya ingin memberitahukan pada semua penghuni hutan kalau aku ini hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar”, jawab si Kancil dengan sombongnya.
“Sombong sekali kamu, Kancil! Akulah hewan yang paling cerdik di hutan ini”, kata si Siput.
“Hahahaha......., mana mungkin!”, ledek Kancil.
“Untuk membuktikannya, bagaimana kalau besok pagi kita lomba lari?”, tantang si Siput.
“Lomba lari...? Apakah kamu yakin dengan tantanganmu itu, Siput?”, jawab si Kancil.
“Aku yakin, Kancil”, kata Siput.
“Tidakkah kamu melihat perbedaan antara dirimu dan diriku?”, si Kancil berkata dengan sombongnya.
“Aku tahu. Tetapi belum tentu kamu yang menang.” kata si Siput yakin.   
“Baiklah! Aku terima tantanganmu”, jawab si Kancil.
Akhirnya, si Kancil dan si Siput setuju untuk mengadakan perlombaan lari besok pagi.
Setelah si Kancil pergi, si Siput segera mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong agar teman-temannya berbaris dan bersembunyi di jalur perlombaan, dan menjawab kalau si Kancil memanggil.
Akhirnya hari yang dinanti tiba. Kancil dan Siput pun sudah siap untuk lomba lari.
 “Apakah kamu sudah siap untuk lomba lari denganku?”, tanya si Kancil.
“Tentu saja sudah. Dan aku pasti menang”, jawab si Siput.
“Hahaha....., mana mungkin!”, kata si Kancil
Kemudian si Siput mempersilahkan Kancil untuk berlari dahulu. Si Siput berpesan pada si Kancil agar sepanjang jalan sering memanggilnya   untuk memastikan sudah sampai mana si Siput.
Kancil berjalan dengan santai dan merasa yakin kalau ia akan menang. Setelah beberapa langkah si Kancil mencoba untuk memanggil si Siput.
“Siput...., sudah sampai mana kamu?”, teriak si Kancil.
“Aku ada di depanmu!”, teriak si Siput.
Kancil terheran-heran, dan segera mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si Siput lagi, dan si Siput menjawab dengan kalimat  yang sama,
”Aku ada di depanmu!”
Si Kancil benar-benar merasa bingung, bagaimana mungkin si Siput bisa mendahului dirinya. Namun tidak pernah terpikir oleh si Kancil kecerdikan akal si Siput.
Akhirnya si Kancil berlari. Tetapi setiap ia memanggil si Siput, selalu  terdengar jawaban bahwa si Siput ada di depan dirinya. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Kancil berlari terus, sampai akhirnya ia melihat garis finish. Wajah Kancil sangat gembira sekali, karena waktu ia memanggil Siput, sudah tidak ada jawaban lagi. Kancil merasa bahwa ialah pemenang dari perlombaan lari itu.
Namun betapa terkejutnya si Kancil, karena ia melihat si Siput sudah duduk di atas batu dekat garis finish.
“Hai Kancil, kenapa kamu lama sekali? Aku sudah sampai dari tadi!”, teriak si Siput.
“Bagaimana caranya kamu bisa lebih dulu sampai?”, tanya si Kancil.
“Aku sudah mengingatkanmu sejak kemarin bahwa aku pasti menang.” jawab si Siput. 
 Dengan menundukkan kepala, si Kancil menghampiri si Siput dan mengakui kekalahannya.
“Makanya jangan sombong! kamu memang cerdik dan pandai, tetapi kamu bukanlah yang terpandai dan tercerdik”, kata si Siput.
“Iya, maafkan aku Siput. Aku tidak akan sombong lagi”, kata si Kancil.
“Baiklah. Tapi jangan kamu ulangi lagi perbuatanmu itu”, nasehat si Siput.

T A M A T

Tidak ada komentar:

Posting Komentar